Islam itu berisi :

Islam itu berisi :

Friday, January 29, 2016

15. Janggut dan Jidat Hangus bukan KTP di Akhirat


Janggut itu sunnah, tapi tidak menjadi sebab seorang muslim masuk neraka atau masuk surga. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyebabkan seseorang masuk surga, termasuk amal. Hanya Allah.

Rabi-rabi Yahudi modern juga jenggotnya pada sepanjang jalan kenangan.
XD

Jenggot itu sunnah, tapi bukan itu "Kartu Tanda Penduduk" [KTP] di akhirat kelak. KTP di akhirat juga bukan jidat hangus. hangus = gelap
.

Q.S. Yunus (10) : 27
“… seakan-akan wajah mereka ditutupi oleh kepingan-kepingan malam yang
gelap gulita, mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as-Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az-Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as-Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku.” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701)
Makasih Kang Dulur Agus Hilmi atas tambahan referensi ini.


KTP di akhirat kelak

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." [Q.S. Al-A'raaf:143]



tapi lihatlah ke bukit itu Allah memerintah Musa a.s. mengarahkan dahinya ke bukit

Tatkala Tuhannya menampakkan diri bukan Tuhan yang tajalli melainkan Cahaya Tuhan yang ada pada Rahasia manusia [Q.S. Al-Hijr:29] yang tajalli dan terpancar dari dahi Musa a.s.

Kalau benar-benar Allah yang tajalli atau muncul ke dunia, kiamat Kubra-lah: semua kembali ke awal [ahadiyat]: hanya Allah ADA. Karena Nur Ilahi itu dahsyatnya melebihi api neraka. Itu baru Cahaya-Nya, apalagi Pemilik Cahayanya langsung yang muncul.

Itu sebabnya ada dalil lawlaka laa ma khalaqtu 'aflaka,'jika bukan karena engkau yaa Muhammad, niscaya tidak Ku-ciptakan sekalian alam. Artinya, Nur Muhammad itu semacam "lapisan ozon" bagi kehidupan makhluk di semesta raya. [lihat gambar]

Allah memerintahkan Musa melihat bukit, lalu bukit Thursina itu hancur. Iqra-lah.
.

Dalil-dalil Budduhun

Q.S. Al Hadiid (57) : 12
"
Pada hari ketika kalian melihat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya."


Q.S. Al Hadiid (57) : 19
“... bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Q.S. Al Hadiid (57) : 28
“…dan menjadikan untukmu
cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.”

Q.S. Al Hadiid (57) 13
"
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman : "Tunggulah kami, supaya kami bisa mengambil cahayamu."
Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). "Lalu diadakanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa."

Q.S. Ali lmraan (3) : 106 - 107
"
Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan ada pula yang menjadi hitam muram. 'Ada pun orang-orang yang hitam muram mukanya, (dikatakan kepada mereka) : Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.


Hadist dari Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid.

Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda:
Allah mempunyai hamba-hamba
yang bukan nabi dan bukan syuhada, tapi para nabi dan syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah.

Para sahabat berkata,
"Wahai Rasulullah, siapa mereka dan bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka."

Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda,
"Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah. Mereka tidak memiliki hubungan nasab dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama.
Demi Allah mereka adalah cahaya dan mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih"

Kemudian Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam membacakan firman Allah:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Q.S. Yunus :62)



Perhatikan bagian dalil yang saya tandai dengan warna oranye: semuanya mengacu pada waktu di akhirat kelak, bukan di dunia.


Ketakwaan itu barang qadim, mustahil  di dunia ini  dapat dilihat dengan pandangan mata kasar, hanya dengan pandangan ruhani.




.

16. Dalil Sifat 20 | Kitab Nurul Jalaal Fii Makrifatil Ilaahi Dzul Jalaal


Perincian tentang Dua Puluh Sifat Allah berdasarkan Kitab Nurul Jalaal fii Makrifatil Ilahi Dzul Jalaal yang selesai disusun pada 1346 H oleh Syaikh Asahan, Imam Besar Masjidil Haram untuk bidang Tauhid. Jangan salah paham tentang Sifat 20 ini, bukan berarti Sifat Tuhan itu hanya 20 saja. Sifat Tuhan tidak terhingga banyaknya, tetapi cukup dengan mengetahui 20 Sifat yang ada disebutkan di dalam Quran itu dapatlah kita mengenal Allah. Mana Sifat-Sifat Allah yang ada dalam Quran itu?

1)    Sifat Wujud: dalilnya Q.S. As-Sajadah: 4;
2)    Sifat Qidam: dalilnya Q.S. Al-Hadid: 3;
3)    Sifat Baqa: dalilnya Q.S. Al-Qashash: 88;
4)    Sifat Mukhalafah: dalilnya Q.S. As-Syu`ara: 11;
5)    Sifat Qiyamuhu: dalilnya Q.S. Muhammad: 38;
6)    Sifat Wahdaniah: dalilnya Q.S. Al-Ikhlas: 1;
7)    Sifat Qudrat: dalilnya Q.S. Al-Baqarah: 109;
8)    Sifat Iradat: dalilnya Q.S. Yasin: 82;
9)    Sifat Ilmu: dalilnya Q.S. Al-Mujadalah: 7;
10) Sifat Hayat: dalilnya Q.S. Al-Baqarah: 255;
11) Sifat Sama`: dalilnya Q.S. An-Nisa: 148;
12) Sifat Bashar: dalilnya Q.S. Al-Hajj: 75;
13) Sifat Kalam: dalilnya Q.S. An-Nisa: 164;
14) Sifat Qadirun: dalilnya sama dengan Sifat Qudrat;
15) Sifat Muridun: dalilnya sama dengan Sifat Iradat;
16) Sifat `Alimun: dalilnya sama dengan Sifat Ilmu;
17) Sifat Hayyun: dalilnya sama dengan Sifat Hayat;
18) Sifat Sami`un: dalilnya sama dengan Sifat Sama`;
19) Sifat Bashirun: dalilnya sama dengan Sifat Bashar;
20) Sifat Mutakalimun: dalilnya sama dengan Sifat Kalam.


Kedua puluh Sifat Wajib itu di dalamnya terkandung bermacam-macam Nama,
1. Dinamai Sifat Kamalat atau Kemuliaan Tuhan. Sekaian Sifat 20 itulah dinamai Sifat Kamalat.
2. Dinamai Sifat Hal Nafsiyah, yaitu tentan Diri. Dalam Sifat Nafsiyah ini hanya Sifat Wujud saja. Selain dari Sifat Wujud, tidak ada.
3. Sifat Salbiyah, yang termasuk Sifat Salbiyah ini hanya lima, yakni
  1. Qidam,  
  2. Baqa,  
  3. Mukhalafah,  
  4. Qiyamuhu,  
  5. Wahdaniyah.

4. Sifat Ma`ani, yang termasuk Sifat Ma`ani ada tujuh, yakni
  1. Qudrat, 
  2. Iradat, 
  3. Ilmu, 
  4. Hayat, 
  5. Sama`,  
  6. Bashar, 
  7. Kalam.


Sifat Maknawiyah ada 7, yakni
  1. Qadirun;
  2. Muridun;
  3. `Alimun;
  4. Hayyun;
  5. Sami`un;
  6. Basihrun;
  7. Mutakalimun.


Sifat Idrak, artinya Mengetahui
  1. Ilmu
  2. Sama
  3. Bashar


Sifat Ta`sir
  1. Qudrat;
  2. Iradat;
  3. Ilmu;
  4. Hayat.


Sifat Istirna, artinya Kaya, yang tergolon sifat ini ada 11, yakni
  1. Wujud;
  2. Qidam;
  3. Baqa;
  4. Mukhalafah;
  5. Qiyamuhu;
  6. Sama`;
  7. Bashar;
  8. Kalam;
  9. Sami`un
  10. Bashirun
  11. Mutakalimun


Sifat Kaya-nya Allah tidak ada berhajat kepada makhluk dan tidak berkeperluan kepada apa pun. Kamu taat, Allah tidak beruntung; kamu tidak taat, Allah tidak merugi karena Tuhan bersifat Kaya, tidak bersifat kekurangan. Karena Tuhan Kaya, Dia tidak mengambil faidah atas taatnya makhluk dan tidak juga menjadi kerugian atas tidak taatnya makhluk. Baik yang dikerjakan makhluk, baik juga yang didapatnya. Buruk yang dikerjakan makhluk, buruk juga yang didapatnya.

Sifat Iftikhar artinya Sifat Dibutuhkan. Maksudnya berkehendak dan berhajat sekalian makhluk kepada Tuhan. Sifat ini dinamai Sifat Iftikhar karena baharu alam berkeperluan kepada Tuhan. Dari sifat ini kita mengetahui bahwa Tuhan itu tidak ada berhajat kepada makhluk. Sebaliknya, makhluk berkeperluan kepada Tuhan.
  1. Wahdaniyah;
  2. Qudrat;
  3. Iradat;
  4. Ilmu;
  5. Hayat;
  6. Qadirun`;
  7. Muridun;
  8. `Alimun;
  9. Hayyun



Perlu juga kita mengetahui yang harus pada Zat Allah Swt. Hanya satu macam yang harus pada Zat Allah itu, yakni Tuhan mungkin menjadikan atau mungkin juga tidak menjadikan. Tuhan boleh meng-ada-kan, boleh juga tidak meng-ada-kan. Arti meniadakan juga berarti menghabiskan atau membinasakan.

Segala yang belum di-ada-kan Tuhan, itulah yang disebut harus. Seperti kita sekarang ini, sebelum kita ada bernama mungkin yang belum ada. Maka Tuhan mengadakan kita. Tuhan meng-ada-kan kita ini namanya Tuhan meng-ada-kan yang mungkin. Jadi hukumnya harus bagi Tuhan, bukan wajib. Kita boleh di-ada-kan Tuhan dan boleh juga tidak di-ada-kan Tuhan.

Bukan ibu-bapak yang membuat kita ada karena Nabi Adam a.s. tidak ada ibu-bapaknya. Siti Hawa tidak ada ibunya, Nabi Isa a.s. tidak ada bapaknya.

Ada juga orang bersuami-istri bertahun-tahun tidak mempunyai anak. Ada juga orang bersuami-istri mempunyai anak. Namun, anaknya itu dijadikan oleh Tuhan, bukan oleh suami-istri tadi karena banyak juga anak yang lahir dalam keadaan yang tidak diinginkan oleh ibu-bapaknya, seperti terlahir cacat atau buruk rupa. Anak yang cacat atau buruk itu, ibu-bapaknya tidak bisa menggantikan atau tidak bisa mencari gantinya. Kalau anak-anak yang dilahirkan itu karena kemauan ibu-bapaknya, pasti semua anak di dunia ini terlahir normal dan cantik-cantik-tampan-tampan; tidak ada yang cacat atau buruk rupa. Inilah nyata bahwa menjadikan itu bagi Tuhan sifatnya harus/boleh jadi, bukan wajib.


Kemauan kita dengan kemauan Tuhan tidak bisa sama. Kalau kita ikut nafsu kita, itulah li nafsu. Ikutlah kemauan Tuhan, maka disukai Tuhan: tepat waktu. Kalau kemauan kita kita bawa di dalam ibadah, dikatakan niat tidak ikhlas karena kemauan kita li nafsu. Nafsunya yang beribadah.

Ibadah yang seperti itulah yang dipukulkan kembali pada diri orang yang beribadah itu. Karena dia beribadah secara li nafsu, bukan lillahi ta`ala. Padahal setiap lilllahi ta`ala musti billahi ta`ala. Kalau sudah lillahi ta`ala, tidak ada campur nafsu lagi. Jangan dikira yang disebut ibadah itu tidak bisa membinasakan diri kita sendiri.


Beginilah halusnya tauhid dalam menilai lillahi ta`ala. Ibadah yang disukai Tuhan: tepat waktu. Kalau sudah masuk waktu lalu masih "sebentar lagi-sebentar lagi", itu kalau kemudian dia beribadah sudah dengan niat yang tidak ikhlas. Ada juga yang ujung-ujungnya malah tidak jadi beribadah. Ayolah, kita ubah cara-cara seperti ini. Jangan dibiasakan. Bikin gemuk setan saja.

Padahal setiap lilllahi ta`ala musti billahi ta`ala.

— Syaikh Siradj —

.

18. Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli 3 | Pengajian Ibu-Ibu


Sebelum ini:
Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli
Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli 2



Mahasuci itu Nur Muhammad, bersifat diam; tidak bergerak-gerak. Diri kita ini sudah berada di dalam Tubuh Diam [Nur Muhammad]. Pandanglah Tubuh Diam dengan perasaan yang hening. Akan terasa nikmatnya. Orang yang sudah kenal dan dapat kekal dengan Tubuh Diam: shalat terasa nikmat, tidur pun nikmat; hidup nikmat, mati sekalipun nikmat. Ini bagi orang yang kenal.

Inilah perlunya mengenal Tuhan. Kalau perasaan kekal terus dengan Allah, segalanya nikmat. Ini bagi yang kenal. Bagi yang tidak kenal, [diakui atau tidak selama hidup hati terdalamnya] kalang kabut terus [dan mati akan terasa sakit dan menakutkan].

Kalau kita sudah kenal dengan Mahasucinya Allah, kita pun Mahasuci juga dan keberadaan kita pun tetap di dalam Mahasuci. Mahasuci inilah tempat husnul khatimah; tempat yang penuh rahmat.


Kita ini sudah berada di dalam Tubuh Mahasuci. Ini sudah sebenar-benarnya. Hendaklah kita selalu merasakan di dalam Tubuh Mahasuci karena Tubuh Mahasuci ini tidak meninggalkan tempat; karena Dia tidak bertempat. Inilah Rahasia dari segala Rahasia Allah.

Orang berkata Rahasia Allah itu begini-begitu, kita tetap berpegang Mahasuci inilah Rahasia Allah. Coba kalau perasaan kita tengan dengan Mahasuci, tentu Allah sajalah yang ADA.

Ibaratkan pintu kamar yang tertutup, ketika dibukakan kita lihat ada orang di dalam kamar itu. Walaupun pintu itu ditutup kembali, kita tetap yakin di dalam kamar itu ada orangnya. Begitula kalau kita kekal memandang Mahasuci. Kalau dibukakan, melihatlah kita dengan adanya Rahasia Allah ini.


Siapa Rahasia Allah yang kamu lihat itu?
Itulah tubuh Muhammad Rasulullah. Siapa bilang tidak bisa melihat Muhammad Rasulullah [dalam keadaan sadar-terjaga]?

Masalah Mahasuci ini jangan diragukan lagi karena Mahasuci itu Tubuh Allah. Kita sudah sebenar-benarnya di dalam Tubuh Allah. Sudah nyata Tubuh Mahasuci ini tidak ada antaranya dengan kita. Kita dengan Mahasuci bukan bersatu, bukan menyatu, melainkan sudah benar-benar satu. Kosong inilah Tubuh Mahasuci. Tubuhnya kita ini juga.

Cara mempraktikkannya:
Sadari saja kita dengan Tubuh Mahasuci: satu.
Bawalah kesadaran ini dalam hidup sehari-hari. Kalau kesadaran ini men-"jadi", kita bukan hidup di alam dunia lagi, melainkan sudah hidup di alam Mahasuci.

Ikutilah apa kemauan Allah. Kemauan Allah, kita shalat: shalatlah. Banyak mengaji: tadaruslah. Puasa: puasalah. Zakat: berzakatlah, dsb.


Bagaimana mau masuk surga, sedangkan kemauan Allah kita tidak mau tahu. Mana bisa masuk surga.

Berusahalah. Jangan hidup di dunia saja, hiduplah di tempat yang penuh rahmat.


Jangan dilalaikan lagi keberadaan kita ini, tetap di Mahasuci. Allah ada di Mahasuci-Nya. Kemahasucian Allah itulah Sifat Qadim-Nya. Bersifat Tuhan selama-lamanya.

Kalau kesadaran kita tetap di Mahasuci, bersama Tuhanlah kita selama-lamanya. Karena Mahasuci itu tempat yang Mahasuci. Mustahil Mahasuci itu bertempat di tempat yang kotor. Tentulah Allah Yang Mahasuci itu berada di Mahasuci-Nya.


Siapa yang meng-ada-kan Mahasuci itu? 
Hanya Tuhan. 
Ketika belum ada sesuatu, belum ada apa-apa, Tubuh Mahasuci ini sudah ada. Tubuh Mahasuci inilah Tubuh sebelum ada segala sesuatu. Tubuh Mahasuci ini bersifat Baqa. Kekal.
Ketika segaa sesuatu yang di-ada-kan Tuhan sudah hancur, Tubuh Mahasuci tetap ada. Tidak hancur. Tetap Kosong.





كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya.[Q.S. Qashas:88]



Kita tetap sadar di dalam Mahasuci. Inilah keimanan yang tidak bisa koyak. Dengan keimanan kita, cukup disadari saja: Kita ada di Mahasuci yang laysa kamitslihi syai`un; yang tidak memerlukan tempat.

Kukuhkan perasaan kita di Mahasuci. Jangan ada pikiran kepada yang bukan Mahasuci. Kukuhkan kesadaran kita selalu di dalam Mahasuci. Berarti kita telah berpegang kepada keesaan Tuhan. Denggan kesadaran pada Mahasuci inilah kita terbungkus oleh kecemerlangan cahaya Tauhid.

Inilah Zat yang ditauhidkan, yakni Zat Mutlak. Orang yang karam di dalam Zat Mutlak, inilah orang yang karam di lautan tauhid. Lautan tauhid inilah lautan ahadiyat atau lautan laa ta`yin, yaitu lautan sebelum ada sesuatu. Baik-baiklah paham tentang Mahasuci ini. [Tamat]



— Syaikh Siradj —

.

19. Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli 2 | Pengajian Ibu-Ibu


Sambungan dari: Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli

Anda yang baru pertama kali baca blog ini, dianjurkan baca dulu tulisan tentang Perbedaan Tuhan dan Allah dan Zat dan Sifat.

Kalau kita sudah paham tentang hukum akal ini, jangan salah paham. Karena yang benar itu: tidak boleh salah paham. Begitu juga tentang perkataan-perkataan Tuhan atau firman-firman, jangan sampai salah paham. Tuhan tahu manusia-manusia yang dalam keraguan mengenai perjumpaan dengan-Nya. Dari mana kita tahu hal ini? Dari perkataan Tuhan juga.


٤١:٥٤]  أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِّن لِّقَاءِ رَبِّهِمْ ۗ]
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. [Q.S. al-Fushilat:54]


Perkataan Tuhan ini musti dipahami. Sebab apa manusia dalam keraguan bertemu Tuhan? Karena belum mendapatkan penjelasan oleh Tuhan tentang Tuhan itu sendiri. Maka dijelaskan oleh Tuhan tentang Diri-Nya, di ayat yang sama selanjutnya.


٤١:٥٤]  أَلَا إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيطٌ]
Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. [Q.S. al-Fushilat:54]


Keraguan kamu itu karena kamu tidak paham perkataan Tuhan yang menjelaskan bahwa sesunggunya Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu atau Maha Meliputi sekalian alam. Alam apa saja: alam dunia, alam jin, alam malaikat, alam para nabi, alam akhirat, semuanya.

Dijelaskan lagi tentang Tuhan Meliputi segala sesuatu itu pada ayat berikut.

٥١:٢٠]  وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ]
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. [Q.S. Adz-Dzariyaat:20]


Di dunia ini ada tanda-tanda Wujud Tuhan bagi orang-orang yang yakin. Yakin karena paham yang dikatakan wujud Tuhan itu adalah Zat Tuhan atau Diri Tuhan.

Dalam hadis yang terdapad dalam Kitab Pembuka Rahasia Allah karya Dr. Syaikh H. Jalalluddin disebutkan hadis qudsy:

Awwalu maa khlaqallaahu min nuurihi Nabiyyika
Yang pertama dijadikan Allah adalah cahaya Nabimu


Berarti sebelum Nabi, Cahaya dulu yang dijadikan Tuhan [sebelum Nur Muhammad, Nur Ilahi dulu dijadikan Tuhan]. Cahaya Diri Tuhan itulah yang dikatakan oleh ahli tasawwuf sebagai Nur Ilahi atau Cahaya Tuhan. Maksudnya, Tuhan meng-ada-Kan Cahaya Diri-Nya lalu dari Cahaya Diri-Nya inilah kemudian dijadikan Nur Muhammad.

Cahaya Diri Tuhan ini Mahasuci. Maka setiap manusia yang terlahir dikatakan "fitrah", artinya suci. Waktu Muhammad dilahirkan, diri bayi itu zahirnya suci, batinnya pun suci karena dijadikan dari yang Mahasuci. Yang Mahasuci itulah Nur Ilahi.

Siapa mengenal dengan yang disebut Mahasuci ini, mahaesa-lah dia dengan Tuhan.

Supaya kita tidak salah paham, hendaklah diketahui apa itu Mahasuci? Mahasuci itu Cahaya Diri Tuhan [Nur Ilahi]

Nur Ilahi -- dijadikan-Nya --> [Nur] Muhammad. Muhammad Saw. itu manusia biasa seperti kita juga [yang berjasad kasar]. Walaupun Muhammad Saw. dan diri kita semua ini berjasad kasar, tetap asalnya dari Mahasuci. Diri kita begini, Allah tetap Mahasuci.

Mahasuci itulah Rahasia Allah. Untuk mudah paham dalam pengenalan, kita sebut Mahasuci itu sebagai "Kosong". Kosong itulah Tubuh Mahasuci, Tubuhnya Allah Ta`ala. Jangan ragu lagi karena ini didapatkan dari penyelidikan dalam Quran. Mahasuci itu Nur Muhammad; di dalam Mahasuci itu Nur Ilahi. Nur Ilahi itulah disebut juga Zat Mutlak.

Jadi, Kosong ini Mahasuci alias Nur Muhammad. Nur Muhammad ini Sifat. Adapun Nur Ilahi itu Zat Mutlak [Zat semata-mata; tanpa Sifat]. Maka dikatakanlah Tuhan itu terlindung oleh Zat dan Sifat. Maksudnya terlindung oleh Nur Ilahi [Zat Mutlak] dan Nur Muhammad [Sifat].

Kosong yang kita lihat ini adalah Mahasucinya Allah. Di balik Mahasuci ini kita sadari: Yang Terlebih Mahasuci saja ADA. Begitulah waktu kita berdiri shalat, kita sadari bahwa yang ADA di Maharuang itu Tuhan. Kita sadari bahwa Tuhan itu ADA di Maharuang atau di "Kosongnya Kosong."

Kosong atau Mahasuci [Sifat] yang kita lihat ini adalah Nur Muhammad, sedangkan Maharuang bukan Nur Muhammad, melainkan Nur Ilahi [Zat Mutlak]. Nah, dibalik Maharuang atau dibalik Zat Mutlak itu kita sadari: ADA TUHAN.

Tuhan itu Rabbul izzati [Tuhannya sekalian Zat]. Tuhan itu bukan Zat Mutlak, melainkan Zat-nya Zat. Kalau sudah paham ini, langsunglah takbir dan shalatlah sampai selesai salam. [bersambung]

Rangkuman:
Cahaya Nabi = Nur Muhammad = Sifat = [Kosong] Mahasuci.
Cahaya Diri Tuhan = Nur Ilahi [yang oleh Tuhan dinamai "Allah"] = Zat Mutlak = Rahasia Allah = [Kosongnya Kosong] Maharuang.
Cahaya Nabi dijadikan dari Cahaya Diri Tuhan.





.

20. Islam: Agama Tauhid dengan Hukum Aqli | Pengajian Ibu-Ibu


Keluarga Pusaka Madinah

Salam alaikum, Sobat Sarang....
Postingan kali ini sekaligus merupakan peluncuran kategori baru di Sarang Muxlimo, yaitu kategori Pengajian Tauhid Ibu-Ibu [dan remaja putri]. Kategori ini adalah buah dari curhat Sobat Sarang yang saya sampaikan pada Abah Siradj mengenai keinginan beberapa Sobat untuk belajar tauhid dari dasar. 

Alhamdulillah, kemudian Abah Siradj mencetuskan ide untuk memuat juga tausyiah-tausyiah  beliau di pengajian rutin khusus ibu-ibu yang biasa dilaksanakan setiap hari Sabtu siang di kediaman beliau. Jadi, insyaAllah isi pengajian ibu-ibu saya muat di sini setiap hari Minggu. [Jadi tiap Sabtu siang ane menyaingi Abah jadi yang paling ganteng di ruangan, ihirrrrr! wwkwkkw!  

Ini murni ide dari Abah Siradj sendiri sebagai respons atas curhatan Sobat Sarang sekalian, di antaranya Teh  Amy Damayanti, Neng Ana Siti Rohimah, juga Teh Ochi [temen sekelas ane waktu SMA]. Mudah-mudahan ini berita gembira buat Sobat Sarang semua, yah.

Islam: Agama Tauhid berdasarkan Hukum Aqli 

Dalam mempelajari tauhid, kita mempergunakan hukum aqli (akal). Perlu kita memahami betul-betul maksud dari hukum akal itu.


Dalam hukum aqli terdapat tiga prinsip:
1. Wajib bagi akal
Wajib bagi akal artinya akal kita menerima adanya kebenaran akan sesuatu. Yang benarnya itu yang diterima akal, maka dikatakan sebagai "wajib bagi akal".

Contoh: 
1 + 1 = 2
Bagaimana akal kita tentang hal di atas? Menerima atau tidak? Kalau akal kita menerima adanya 1+1 = 2, hal inilah dikatakan "wajib bagi akal".
2. Mustahil bagi akal
Mustahil bagi akal maksudnya akal kita tidak menerima akan sesuatu.
Contoh:
1 + 1 = 5
Akal kita tentu tidak menerima adanya 1 + 1 = 5 ini. Maka setiap yang tidak diterima kebenarannya oleh akal disebut "mustahil bagi akal". Kalau ada akal yang menerima 1 + 1 = 5, cepat-cepat bawa orang itu ke dokter syaraf. 
3. Harus bagi akal.
Harus [jaiz] bagi akal maksudnya akal kita menerima sesuatu itu boleh ada, boleh juga tidak ada [mungkin].
Contoh:
Kita melihat ada orang sakit kemudian meninggal dunia. Bagaimana akal kita mengenai ini? Akal kita berpendapat bukan penyakit yang mematikan orang itu karena ada orang yang tidak sakit pun mati. Jelaslah bukan penyakit yang menyebabkan kematian seseorang, hanya ada terjadi ketika sakitlah orang itu dimatikan  Allah.




Suasana Pengajian Ibu-Ibu

Ada lagi contoh, orang itu sehat dari sakit setelah diobati dokter. Akal kita tidak menerima bahwa dokter itulah yang menyembuhkan si sakit karena banyak anak-istri dokter, bahkan banyak pula dokter yang mati karena sakit.

Akal kita berpendapat orang itu disembuhkan Allah dari sakit ketika ditangani oleh dokter.

Ada juga orang yang mati tertabrak mobil. Akal kita tidak menerima ini karena mobil bukanlah barang mematikan. Ada juga orang yang tertabrak mobil, tetapi tidak mati. Akal berpendapat, ketika tertabrak mobil itulah orang itu dimatikan Allah.

Ada perkataan manusia pergi ke bulan. Akal kita berpendapat, bisa manusia itu sampai; bisa juga tidak sampai ke bulan.



Tentang dunia-akhirat, akal kita menerima bahwa alam dunia dan alam akhirat itu boleh di-ada-kan Allah, boleh juga tidak di-ada-kan Allah. Akal kita menerima bahwa bukan kewajiban bagi Tuhan meng-ada-kan dunia-akhirat itu. melainkan sekadar harus [boleh jadi]. Kalau ada yang wajib bagi Tuhan, tentulah ada Tuhan di atas Tuhan. Ini mustahil bagi akal.

Kalau kita memandang dunia-akhirat ini dari kita kepada Allah: hukumnya harus/jaiz alias kebolehjadian [probabilitas]. Kalau kita memandang dari Tuhan kepada dunia-akhirat, wajib diterima akal bahwa Tuhan-lah yang meng-ada-kan keduanya.

...bersambung...


Sebagian ibu-ibu pengajian yang sudi ane culik buat poto-poto, sebagian lainnya malu-malu. Hehehe.


.