Islam itu berisi :

Islam itu berisi :
Showing posts with label Kategori Kajian Madya. Show all posts
Showing posts with label Kategori Kajian Madya. Show all posts

Wednesday, January 27, 2016

SENARAI TAJUK KATEGORI KAJIAN MADYA [70 Topik]

7. Tubuh Alam dan Tabuh Genderang Jundullah



Perlu kita mengenal sebaik-baiknya tentang Tubuh Alam. Tubuh Alam itu bukan alam. Tubuh Alam itu Maharuang [Q.S. Fushilat:54; Q.S. Nur:35], didalamnya ada segala :alam dunia, alam jin, alam malaikat, alam barzakh, alam akhirat, surga-neraka, dengan sekalian makhluk penghuninya. Supaya paham, pandang satu saja dari banyak. Maksudnya, pandang Tubuh Maharuang saja, jangan pada yang banyak [isi Maharuang] itu. Yang kita pandang satu ini sudah NYATA: laysa kamistlihi syai`un; tidak berbentuk; tidak bertempat; tidak berwarna.

Gunakanlah paham dan pemikiran hakiki karena manusia banyak tidak paham dengan Tubuh Alam ini dan benar-benar tidak tahu. Maka banyak yang justru bermain di Tubuh Alam ini dengan kemenyan, setanggi, sajen-sajen, barang-barang pusaka, dan ketololan pagan lainnya. Akhirnya terjadilah muslihat makhluk-makhluk jin-setan-Iblis menipu mereka. Ada yang kesurupan, ada yang histeris meraung-raung, bahkan ada yang pingsan diakibatkan perbuatan mereka sendiri. Kalau orang yang sudah tahu Tubuh Alam akan yakin berpendapat, "Untuk apa bergabung dengan makhluk-makhluk laknatullah itu!"

Supaya mengerti, hendaklah kesadaran kita ada di Kosong. Yang Kosong itu Tubuh Allah Ta`ala [Zahiru Rabbi]. Apakah Tubuh Allah minta dibakarkan menyan dan setanggi? Apakah Tubuh Allah minta disajen dengan kepala kerbau atau kopi pahit? Apakah Tubuh Allah minta dipuja dengan nama dewa-dewi pewayangan? Apakah Tubuh Allah minta dipanggil "Eyang", "Mbah" atau "Syaikh" ini-itu? Apakah Tubuh Allah mengajarkan manusia jadi babi ngepet, ngipri monyet, pelihara tuyul, dan mengoleksi barang-barang pusaka?

Sudah ada di Tubuh Alam, mau perlu apa cari-cari dunia lain seperti acara si Tukul itu? Kita ini sudah di alam Mahasuci. Kita mau mengusir makhluk-makhluk jahat yang mengganggu hidup manusia itu, mereka malah terbalik: malah berbaik-baik dengan makhluk-makhluk laknatullah itu. Malah diberinya kopi pahitlah, kembang 7 rupa-lah, sajen-sajen-lah, rokok kelobot koplok-lah.

Kita ini sudah di dalam Tubuh Allah. Shalat saja kita di dalam Tubuh Allah ini. Mengapa Allah masih mau kalian persekutukan dengan makhluk-makhluk kentut berot itu? Mengapa Allah masih mau kalian persekutukan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti jejadian itu? Itu ilmu kentut berot, kalau mau tahu.


Bila perlu, ayo kita perang gaib kalau memang mau tahu kebenaran yang sebenar-benarnya.

Kami tahu tentara-tentara Allah dan kami kenal dengan Komandannya. Perlu apa orang tauhid takut dengan ilmu-ilmu kentut berot itu.



Syaikh Siradj





Admin dan para punggawa page “Mistik dan Makrifat Syekh Siti Jenar” yang dengan tidak tahu malu mencampurkan kebenaran Islam ke dalam paham kebatinan kejawen, siap-siapkan perisai, blangkon tempur, keris pusaka, termasuk pasukan lelembut: tuyul, kuntilanak, kelongwewe dan genderuwo yang kalian sebut roro dan raden gusti itu kalau memang mau tahu kebenaran hakiki Islam ajaran Muhammad Saw. Bila perlu minta bantuan juga sana sama si Sabda Langit lan konco-koncone.


Ini bukan mau berlagak sok dan ini bukan "perang merek". Ini mendudukkan batas yang tegas antara haq dan bathil. Sudah berapa banyak umat Islam disesatkan dan dirusak akidahnya dengan campuran-campuran dari luar Islam. Memangnya akidah itu gado-gado. Jangan coba-coba sodorkan dalil-dalil akhlak di sini.


Keluarga Pusaka Madinah dan setiap muslim yang paham hakiki, ayo ramai-ramai ucapkan TUHAN TUBUHKU; MAHASUCI NYAWAKU; YAA BUDDUHUN! lalu arahkan pancaran budduhun pada mereka sebagai "tembakan aba-aba".[Mux]

.

8. Tauhid Sirr Rasulullah | Mukadimah Kitab Bayan Alif




Uraian dari para muwwahid, dikatakan bahwa

  • mim () itu ruh jasmani;
  • ha () itu ruh ruhani;
  • mim () itu ruh mani;
  • dal () itu ruh idhafi.

  • ruh jasmani itu syariat;
  • ruh ruhani itu tarikat;
  • ruh mani itu hakikat;
  • ruh idhafi itu makrifat.

  • ruh jasmani itu ada pada jasad;
  • ruh ruhani itu ada pada hati;
  • ruh mani itu ada pada nyawa;
  • ruh idhafi itu ada pada Rahasia.

  • gerak jasad dari ruhani;
  • gerak ruhani dari nurani;
  • gerak nurani dari Rabbani.


Bahwa Allah dan Muhammad itu esa; tidak bercerai. Maka dalam Tauhid Sirr atau Tauhid Dzukiyyah alias Tauhid Rasa dikatakan, jasad ini tempat merasakan saja. Dari prosedur di atas tadi, rasa jasad hanya merasakan "ada" ini dengan rasa Rabbani. Di hati jangan ada lagi berkata-kata gerak ini dari itu lagi [maksudnya: ketika berpraktik, teori jangan diingat-ingat lagi]

Jadi Diri Rabbani itu diri siapa? Diri Allah. 
Kalau sudah paham gerak jasmani dari ruhani, gerak ruhani dari nurani, gerak nurani dari Rabbani; dan sudah tahu diri Rabbani itu Diri Allah, mengapa takut mengatakan Diri Rabbani itu Diri Allah? Takut apa? Takut dosa; terkena dosa. Takut neraka; masuk neraka, takut syirik tertimpa syirik. Tidak perlu takut karena yang dimaksud di sini adalah jasad kita tidak lagi merasa ada diri baharu ini dan hanya merasakan Diri Rabbani yang berkuasa. Bukan kita merasakan diri kita ini jadi Allah atau mau sama dengan Allah, melainkan yang dirasakan jasad ini hanya Diri Rabbani saja sumber dari segala sumber pergerakan nurani, ruhani, dan jasmani.

Ingat hadis qudsy,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”.


Aku ada pada sangka hamba-Ku. Persangkaan kita tetap: Diri Rabbani itulah Diri Allah yang bersifat Hayat, Qudrat, Iradat, Sama`, Bashar, Kalam, Ilmu. Diri Rabbani ini Diri Zat. Diri Zat ini bersifat ma`ani.

Firman Allah lainnya dalam hadis qudsy,
"Al insanu sirrihi wa Ana sirruhu."
Manusia itu Rahasia-Ku, Aku Rahasianya.

Maksud perkataan ini, lembaga jasad manusia itu adalah Rahasia Allah. Rahasia Allah itu Zat Allah. Tentulah Zat Allah yang menjadi diri kita. Bukan diri kita ini menjadi Allah, melainkan Zat Allah itu yang dijadikan diri kita. Firman di atas itu agar kita dapat membedakan apa itu zat dan apa itu diri.


Fardhu hendaknya diketahui bahwa yang dikatakan Zat itu Rahasia Allah dan jasad kita ini dijadikan dari Zat Allah. Perlu kita ketahui tamsilnya, dinyatakan pula pada orang yang mengetahui sifat yang tujuh, seperti pada sifat Hayat, dilihat jasad kita yang hidup karena kita tahu jasad kita ini rahasia Allah atau Zat Allah. Rasakanlah yang hidup ini Zat Allah. Lengkapnya begini:

  1. Hayat : rasakan yang hidup itu Zat Allah;
  2. Ilmu : rasakan yang mengetahui itu Zat Allah;
  3. Sama` : rasakan yang mendengar itu Zat Allah;
  4. Bashar : rasakan yang melihat itu Zat Allah;
  5. Qudrat : rasakan yang berkuasa itu Zat Allah;
  6. Iradat : rasakan yang berkehendak itu Zat Allah;
  7. Kalam : rasakan yang berkata-kata itu Zat Allah.

Ingatlah, kedudukan jasad ini hanya tempat merasakan. Kalau sudah kita rasakan Zat Allah saja semuanya, tidak perlu lagi ada merasakan baharunya atau tidak merasakan lagi diri kita yang berkelakuan.


Zat Allah itu adalah Rahasia Allah. Rahasia Allah itulah Diri Allah. Kalau sudah rasa Zat Allah saja yang ada. Yakinkan saja Allah segala-galanya. Jangan ada keraguan lagi dan jangan diragukan lagi. Wajib yang kita yakinkan hanya Allah saja. Mustahil yang kita yakinkan baharu. Itu namanya bersekutu. Karena Allah itu bukan baharu, bukan jaiz. Lebih jelasnya, jasad kita ini Af`al Allah dan perbuatan-perbuatan jasad kita ini rasakanlah sebagai perbuatan Allah atau Zat Allah.

“Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat.” [Q.S. Ash-Shaffaat: 96].

Karena diri dengan perbuatannya itu satu; tidak bercerai. Perbuatan itu satu dengan diri yang berbuat. Diri kita berbuat dan diri kita itu Zat Allah. Kalau diri kita berbuat, tentulah Zat Allah berbuat. Zat Allah itu Rahasia Allah. Rahasia itu Diri Allah yang sebenar-benarnya. Diri Allah itulah Rahasia Diri Allah.



Peringatan keras: 
Ini pembicaraan dalam lingkup rasa Rabbani, bukan rasa jasmani. Jadi siapa pun yang seenaknya minum khamr [atau melakukan maksiat lainnya] lalu mengatakan itu perbuatan halal orang makrifat: itulah
salah besar,  sesat benar, syirik akbar.



Ingat, jasad kita yang baharu ini hanya tempat merasakan. Kita merasakan gula itu manis. Siapa yang mengetahui gula itu manis? Tentulah rasa. Rasa itu Rahasia. Apa Rahasia itu? Rahasia itu Zat Allah. Siapa Zat Allah itu? Zat Allah itu Diri Allah.

Yakinkan Zat itu Diri Allah. Jangan lagi kita berkata Zat Allah, berkatalah Allah saja. Inilah dalam bahasa tauhid disebut 'dungu hakiki'. Duduk orang ini tanpa berpikir-pikir, hatinya bebal, hatinya tidak ada bertanya-tanya kepada siapa pun, sudah tetap dirasakannya Allah saja semata-mata.

Sadarlah, jasad kita ini hanya tempat merasakan. Sudah kita ketahui Zat Allah itu meliputi diri kita luar dan dalam. Tentulah yang kita rasakan Zat Allah. Kalau kita sudah tahu Zat Allah itu Diri Allah, rasakan saja Allahlah saja segala-galanya. Bawa rasa ini dalam hidup sehari-hari agar kita tidak bercerai dengan Allah. Kalau sudah rasa Allah terus yang kita bawa sehari-hari, akan timbullah rasa Adanya Allah itu.

Dari Allah kembali kepada Allah. Apa pun yang kita rasakan, kembali rasa itu tetap kepada Allah. Kalau rasa sudah berkekalan dengan Allah, tentu rasa Adanya Allah saja yang ADA.


أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”.

Kalau hamba-Ku merasakan Aku saja yang ADA. Akulah Tuhannya. Maksud sangka di sini bukan menyangka-sangka. Lebih baik kita merasakan Allah daripada menyangka-sangka Allah. Siapa mengenal dirinya yang Rahasia, esa-lah dia dengan Tuhannya.


"Jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan kebaikan, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (H.R. Bukhari 6021)


Perangai-perangai ini jangan dilupakan, yaitu perangai tentang rasa. Perangai kita musti tetap sampai kepada Allah. Apabila perangai rasa ini kekal kepada Allah, sucilah ia. Tidak lalai zahir-batinnya dengan Allah artinya mengembalikan hak kepada Yang Punya Hak. Tidak lalai zahir-batin dengan Allah, yakni menyempurnakan zahir-batinsampai ke zarah-zarahnya—kepada Allah. Walaupun zarah-zarah itu tersembunyi di dalam batinnya dalam ruku`, sujud, berdiri di hadirat Allah, tidak ada kelalaian dalam pikirannya, dalam perkataannya, dan dalam kebaikannya. Sampai sehelai rambutnya pun tidak ada kelalaian lagi dan tidak ada lagi yang mencegahnya khusyuk di dalam shalat. Inilah tauhid dzukiyyah atau tauhid sirr alias tauhid rasa.


Pendalaman Teori dan Praktik Sirr:

Sirr itu Rahasia. Rahasia itu Rasa.

Dari sirr ini kita bisa mengetahui apa isi badan seseorang. Menurut Abah Siradj, orang-orang kebatinan itu [kejawen, spiritualis, paranormal, pribadi-pribadi indigo, ustadz klenik, Islam abangan, tasawwuf nanar, pengamal khadam-khadam dan muakkal-muakkal, pengamal meraga sukma atau astral projection] isi jasadnya jin melulu.

Kontak saja orang-orang itu dengan sirr, kita akan tahu siapa yang berkuasa atas jasadnya. Jangan dikata sirr itu tidak pandai berkata-kata. Kalau kalam sirr berkata dengan rasa, "Jin." Jinlah isi orang itu. Kalau kalam sirr berkata, "Dengki." Dengki-lah isi sikap seseorang itu pada kita. Kalau kalam sirr berkata, "Salah paham." Salah pahamlah isi pernyataan seseorang itu atas penyampaian kita. Kalau kalam sirr berkata, "Kambing Kurap." Kambing kurap-lah yang sebenarnya berkelakuan pura-pura bersimpati, memuji-puji, menyanjung-sanjungnya seseorang itu pada kita untuk "cari modal" menipu umat.

"Takutilah firasat orang mukmin, sesungguhnya mereka memandang dengan Nur Ilahi." [Hadis]

Kalau orang tauhid mau jahat, tinggal dimasukkan saja sirr kera ke orang-orang sesat itu maka orang itu akan gila seperti kelakuan kera. Kalau orang tauhid mau jahat, tinggal dimasukkan saja sirr anjing ke orang-orang sesat itu maka orang itu akan "menggonggong" terus seperti anjing. Sudahlah, tauhid sirr ini bukan untuk kejahatan. Ini untuk keselamatan.



Tauhid Sirr ini ilmu ketuhanan murni, bukan ilmu dari kesetanan dan ke-jin-an. Tauhid Sirr inilah yang dinamakan juga Tauhid Dzukiyyah alias juga Pusaka Madinah yang diajarkan Nabi Muhammad Rasulullah Saw. selama ±11 tahun sebelum turun perintah Mi'raj kepada kalangan yang dipandang Rasulullah Saw. sudah duduk di maqam arif billah, khawwasul khawwas dan mukminin-mukminat untuk (*)"mengawal zaman". Sebab makna kata Rasulullah itu ialah yang dipercaya Allah.



Syaikh Siradj


Ini baru mukadimah Tauhid Sirr yang disampaikan Abah Siradj dalam pengajian ibu-ibu Sabtu siang kemarin [13 April 2013]. Bahkan Abah Siradj mengajarkan cara praktiknya langsung pada ibu-ibu hingga muncul perkataan beliau, "Kalau sirr sudah berkata, 'Ludahi'. Ludahi saja muka orang itu! Dia tidak akan melawan meskipun kita ini perempuan. Mana bisa kesesatan melawan kebenaran.

لْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ 
Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. [Q.S. Al-Anbiya:18]


Pembahasan Tauhid Sirr pada pengajian ibu-ibu ini menggunakan
Kitab Bayan Alif. Kata Abah lagi, "Kalau bagi ahli selawat, inilah yang disebut "Yaa Sayyidi Yaa Rasulullah".  Kalau paham-paham Bayan Alif ini sudah tertanam dalam diri manusia, mustahil manusia itu tidak berubah.

[Oya, ketika membahas Tauhid Sirr Bayan Alif ini, nama Brad Arie juga disebut-sebut lho! MasyaAllah, alhamdulillaah, Braderrrrr!]



(*):
Kaitkan dengan hadis tentang Islam akan kembali menjadi "asing" pada akhir zaman dan ayat ini Q.S. An-Naml:50 [kembali]

.

9. Pakai Diri Tajalli untuk Membasmi Eyang Dubur Mabok Apam Jambul


Eyang Dubur Mabok Apam Jambul

Kasyaf itu adalah sadar. Allah tidak ada bandingan; tidak ada umpama-Nya; tidak bertempat; tidak jauh; tidak ada antaranya. Dengan jalan kasyaf, cukuplah Allah itu disadari ADA karena tidak bisa ditafsir. Sadar itu menandakan esa dengan Allah. Tuhan jika diingat-ingat; perasaan justru jadi melayang.


Ingatlah, Islam itu penyelidikan [=Iqra]. Melalui penyelidikan, didapatlah kebenaran. Kebenaran itu membuat kita sadar dan sadar itulah kasyaf. Kita sadari Maharuang itu Zat Mutlak. Kalau sidah betul-betul sadar pada diri kita bahwa Zat Mutlak itu Maharuang, tentulah kita sadar sedang berada di dalam Maharuang.


Yang selalu merenggangkan kesadaran kita akan Maharuang adalah hawa nafsu. Di sinilah kita perlu mengadakan penekanan batin hingga bertemu dengan tajallinya ruhani [Ruh Qudus].


Kesadaran itu 40.000 tahun lebih tuda daripada ingatan. Jika tetap kesadaran kita dengan Maharuang ini, kita bukan tidur di alam dunia lagi, melainkan sudah tidur di Maharuang. Sadarilah diri kita ini sumbernya dari Zat Mutlak. Tentulah diri kita ini adalah Zat Mutlak [Q.S. Al-Insaan:1]. Tentulah jasmani dan ruhani kita Mahaesa dengan Tuhan. Yang Mahaesa dengan Tuhan itu bukan diri kita, melainkan Zat Mutlak [sebagai ihwal kejadian diri kita].


Yang Mahaesa itu tidak berubah-ubah. Jasad seperti inilah jasad kenabian. Jasad kenabian inilah yang diakui jika seseorang melakukan shalat: keadaannya sudah bertubuhkan Ruh Qudus alias juga Zat Mutlak. Ini disebabkan ada tafaddal. Kalau tidak sadar tentang tafaddal, artinya tidak tahu bahwa kita ini sudah bertubuhkan Zat Mutlak.


Diri tafaddal inilah yang mengakui bahwa diri dia itu Tuhan; Yang Berkuasa atas sekalian jasad manusia. Kalau ada orang berdiri shalat, tetapi tidak disadarinya tafaddal ini, secara hakikat orang itu tidak shalat. Karena yang mengaku Diri Tuhan dalam shalat itu adalah Diri Tafaddal atau diri tajalli.

Kalau kita tidak mengakui Diri Zat Mutlak itu Diri Tuhan, tidak kenal Tuhan-lah namanya.


Orang kasyaf memandang semua jasad manusia itu air yang beku. Karena asalnya dari mani dan diketahuinya pula sumber semua diri manusia itu adalah Zat Mutlak [Maharuang]. Tentulah jasad dan ruh kita Mahaesa dengan Tuhan. Kalau ruh dan jasad tidak Mahaesa, akan menuntutlah ruhani. Jasad yang esa dengan ruh, jasad inilah yang diakui. Jika orang itu shalat, keadaannya sudah bertubuhkan Ruh Qudus.


Pernah terjadi di suatu perang pada masa Rasulullah Saw. Pasukan sedang shalat di belakang medan perang dilempari tombak dan dipanahi, meleset semua. Tidak ada satu pun anggota pasukan yang terluka. Karena apa? Karena semua sudah bertubuhkan Ruh Qudus.


Mengapa zaman sekarang tidak ada yang bisa memakai tubuh tajalli ini? Padahal tubuh tajalli ini sudah ada pada setiap diri manusia [Q.S. Adz-Dzariyaat:20-21]. Ini sekadar pengingat saja agar orang mau mengenal tubuh ini karena tubuh ini tubuh keselamatan dunia-akhirat.


Pada zaman para wali juga, tubuh inilah juga yang dipakai. Bahkan, pada zaman nabi-nabi sebelumnya pun ada memakai tubuh ini. Karena tubuh tajalli ini sangat rahasia, banyak ulama tidak bisa mengungkapnya dengan ilmu-ilmu agama "modern" yang mereka punya.


Tubuh tajalli ini mana ada yang disebut bernama Eyang Dubur, Embah Kentut, Ki Sambal Terasi, dsb. Kasihan umat banyak tertipu dengan eyang, embah, dan ki-laknatullah alaih ini. Gara-gara buta tauhid, habis harta, kendaraan, bahkan istri sendiri. Dasar tolol.


Sadarlah umat! Bangunlah! Diri tajalli yang ada di diri kamu sekalian itu lebih mulia. Sudah dimuliakan Tuhan ["Ku-tiupkan Ruh-Ku"]. Inilah diri fii ahsani taqwim. Kalau sudah tahu tubuh fii ahsani taqwim ini  , buat apa kita mau bertubuhkan Eyang Dubur, Embah Terasi, dan kaum minal jinnati wannas lainnya itu?! Jangan diikut manusia-manusia laknatullah itu!


Mudah-mudahan Bing Slamet membaca tulisan ini sebab ada senjata pamungkas yang bisa dia pakai di sini. Mudah-mudahan si Gogon dan kawan-kawan pembela teguh Embah Dubur tahu diri jangan banyak bicara busuk.


Hei ulama besar ahli tafsir mengapa kamu diam saja? Hei ulama terkenal pemimpin majlis zikir, apa tidak berguna zikirmu itu untuk menolong umat? Hei ulama-ulama penegak akhlaqul karimah, mana akhlaqul karimah kalian pada umat. Mengapa sampai umat banyak buta tauhid seperti itu? Apa saja yang kalian ajarkan? Tidak berani tegas angkat bicara. Perangi santet bukan dengan hukum KUHP. Perangi kesetanan itu dengan kebenaran hakiki Islam!

Kalau ulama-ulama besar terkenal kondang dan bergengsi tidak berani menegakkan akidah dengan tegas, ini ada ulama dari Kalimantan Barat yang akan maju mengarahkan untuk melipur dendam umat yang tertipu dan tersakiti. Percuma sorban-sorban bergunung, jidat hitam menghangus, gamis putih berkilau, dan janggut sepanjang lutut kalau menegakkan yang haq masih "banyak pertimbangan" ini-itu. Apa kalian khawatir tidak bisa menghadapi serangan santet?


Wahai umat, mari ramai-ramai melipur lara dan kepedihan umat yang sudah ditipu para setan. Mari ramai-ramai binasakan kekuatan Eyang Dubur, Embah Kentut, dan para laknatullah santun itu dari jauh. Mari ramai-ramai baca dan arahkan kalimah hakiki ini pada mereka. Penegak hukum kalau sudah turun surat perintah penahanan, baca ini juga agar si Dubur tak bisa lolos. Mau lari ke mana dia, tidak ada yang tidak diliputi Tubuh Tuhan:
 



.

10. Khalwat Hakiki, Islam tapi Kafir, dan Jasad Rasulullah



Yang Kosong itu rahasia manusia; Rahasianya Allah, sedangkan isinya: Muhammad. Isi Rahasia itu Zat [yaitu Muhammad] yang berkata-kata dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ketika shalat, siapa yang berkata-kata dan bersyahadat? Muhammad.

Adapun Nur itu nyawa hakiki. Muhammad itu nyawa majati [di pusat]. Isinya nyawa di pusat ini nyawanya Adam. Untuk membuktikan jadinya awal ini, khalwatlah setiap malam Senin, malam Kamis, dan malam Jumat: Baca Surah Yasin 1x dan al-Kahfi 4x ditutup dengan doa Akasyah.

Siapa pandangan mata-hatinya kepada sifat-Nya, itulah yang sebenarnya. Kalau mau ke pasar, tapi berbelok ke lain, tentu tidak akan sampai orang itu ke pasar. Begitu juga tafakur, sampai nyaman senyaman-nyamannya; tidak ada sesuatu lagi: inilah yang dikatakan dzuk.


Kalau sudah dzuk, laysa bi harfin wa laa shautin dan tidak ada ilmu yang bisa menjabarkan nikmat itu. 


Jangan sampai ketika ditarik nyawa, Ruh Qudus pun ikut dan tidak hancur ke jasad. Binasalah jasad. Apabila Ruh Qudus meninggalkan jasad: menerima siksalah jasad.

Apabila ketika nyawa diambil Ruh Qudus melompat [satu dengan] jasad, hiduplah orang itu di barzakh. Bangun dengan ruhani; bangun dengan jasmani. Ini yang dikatakan bukan mati, justru hidup. Kalau Ruh Qudus keluar dari jasad dan satu dengan jasad: bernyawa dan bertubuhkan Ruh Qudus-lah orang itu di alam baqa sampai akhirat.

Manusia
termasuk ulama sekali pun—yang tidak tahu hakikat Muhammad atau nyawa Muhammad , bisa-bisa Islam-nya kalang kabut.

Rabbul alamin itu jasadnya Rasulullah. Adapun Nur [Muhammad] itu nama dirinya. Jadi, Nur itu Rabbul alamin. Kejadian maharuang itu ھ ; tidak ada tafsirnya. Ini kejadian dari Jalal dan Jamal [Sifat asal-Nya].  


Rabbul Izzati itu terlebih suci daripada mahasuci-Nya. Kalau tidak mengenal Kosong Mahasuci, berjasadkan apa dia di alam barzakh sampai akhirat nanti? Bisa-bisa [orang Islam itu] jasadnya sama dengan jasad orang kafir.

Kalau dia mengenal Kosong Mahasuci: Islam jasadnya; Islam pula ruhaninya. Kalau dia tafakur, tafakurnya sampai "hilang" ke akhirat jasadnya. Kalau sudah ھ berbunyi sendiri, tertiblah sudah jasad dan ruhnya. Ini juga sangat berlaku pada waktu sakaratul maut.

Sudah cukup diselidiki atas perintah Allah "naik ke langit" itu, maka kita jangan keliru [menanggapi tarikh Isra Mi'raj] itu hanya sebatas cerita saja. "Wa ya`lamuuna bi tab`i"
Sia-sia pendapat dalam dunia ini, tidak ada gunanya.

Apa kata ruhani kepada jasad yang tidak mengenal diri?
"Binasalah kau jasad selama-lamanya. Aku juga yang merasakan karena kau tidak kenal dengan dirimu dan aku ini ruhmu. Kau tidak cinta Rasul [Ruh Qudus]; tidak kenal dengan aku dirimu."

Nur Ilahi itu jasadnya Rasulullah. Kalau tidak ada pengenalan tentang Nur Ilahi ini, apa bisa kenal dengan Rasulullah? Jangan hanya kenal Rasulullah yang "akhir" saja [Nabi Muhammad Rasulullah Saw. bin Abdullah wa Aminah yang lahir di Mekah dan wafat di Madinah]. Jangan tidak dikenal Rasulullah [yang awal] hakiki ini. Tentu ada jalam pengenalannya juga secara hakiki. Asahlah akal dengan pemikiran. Berpikirlah untuk mendapatkan karunia [rahmat petunjuk-Nya].

Permulaan kita saja dari setitik nutfah [mani]. Apakah tidak perlu kita mengenal [nutfah] ini? Kenalilah, baru kita tahu proses-proses yang sebenarnya atas diri kita ini. Kita pernah berwujud setitik mani. Katena ada proses-proses itu tadi, kita tahu akan keadaan kita berubah-ubah dari jadi darah, daging, tulang, dampai 9 bulan berwujud manusia. Dari setetes mani itu. Apa tidak yakin mani itu jasad kamu?!

Begitu juga, perlu kita mengenal proses-proses haiki dari belum berwujud manusia. Sebelumnya, tentulah berwujud Nur [Muhammad]. Inilah Rasulullah yang masih berwujud Nur. Jadi tahulah kita Rasulullah yang berwujud manusia dan Rasulullah yang berwujud Cahaya. Cahaya Ilahi itulah jasad Rasulullah].

Maharuang inilah Nur Ilahi; jasad Rasulullah. Kalau sudah paham ini, apa lagi mau diragukan berjumpa Rasulullah setiap hari?! Kalau Allah Berkehendak, kamu akan dipandangkan wujud asli [Rasulullah].


Syaikh Siradj




 

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah,Pencipta yang paling baik. [Q.S. Al-Mu'minun:12-14]

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya." [H.R. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu].



.

11. Tauhid Hakiki itu Ilmu Laduni alias Ilmu Ketuhanan



Tauhid hakiki itu ilmu ketuhanan. Ilmu ketuhanan itu ilmu laduni. Ilmu laduni itu Allah mengajar hamba-Nya. Bagaimana Allah mengajar hamba-Nya? Asah akal dengan pemikiran. Berpikirlah!

Berpikir itu supaya mendapat karunia. Semua Perkataan Allah [Kalamullah] itu perlu dipikirkan. Yang kita cari: bi makna yang tersirat dalam Kalam Allah ini. Berpikirlah sedalam-dalamnya dan tenangkan pikiran, barulah dapat keputusan. Yakinkanlah keputusan itu berdasarkan haq dan dalil.

Bukit saja yang jaraknya 1 km bisa kamu lihat. Mengapa Tuhan yang tidak ada antaranya tidak kelihatan? Sedangkan Tuhan itu berada "di tempat" yang terang. Dikatakan demikian, karena Tuhan itu terlindung olah Cahaya-Nya. Cahaya Tuhan lebih terang daripada segala yang terang. Mengapa Tuhan tidak kelihatan? Padahal Tuhan itu sudah NYATA ADA-NYA.

Siapa tidak melihat Tuhan tidak nyata ADA-Nya, berarti zahir-batinnya masih terhijab.


Orang tauhid ketika berada di mana saja, yang dipandangnya wujud Tuhan saja. Tidak ada wujud selain-Nya. Ingat hakikat tauhid: "Laa maujudun illallah."

Inilah praktik orang-orang tauhid. Di mana pun berada tetap Wujud Allah dipandangnya. Sampai akhirat pun demikian. Kalau masih ada wujud makhluk dipandangnya: syirik. Masih bisa dipermainkan setan.

Wujud Allah itu wujud siapa?
Itulah Wujud Tuhan.



Itu sebabnya jika masih ada menyebut baharu saja: syirik. Firman saja mengatakan,Qola fal haqqu wal haqqa aqulu. [Q.S. Shad:84]. Diri Tuhan yang berdoa; barulah dikabulkan.

Mengapa takut mengaku diri kita ini diri Tuhan? Yang hidup: Tuhan; yang melihat: Tuhan; yang  berkata: Tuhan; yang Mendengar: Tuhan. Tuhan semualah sudah.

Banyak orang berkata, bumi Tuhan, langit Tuhan, bukit Tuhan, rumah Tuhan, dan sebagainya. Nah, diri kita ini diri siapa kalau bukan diri Tuhan? Adakah ibu-bapak kita yang membuat kita? Jangankan tangan-kaki, membuat ujung hidung saja ibu-bapak kita tidak bisa.
·         Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya , mustinya setiap lelaki wajahnya tampan [seperti Adam "Muxlimo" Troy | abaykan. 8D ];
·         Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya, mustinya setiap perempuan wajahnya cantik [seperti Nyonya Adam "Muxlimo" Troy | abaykan part. 2 XD wkwkwk]
·         Kalau benar anak itu hasil perbuatan ibu-bapaknya, mengapa banyak juga yang lahir dalam keadaan cacat atau buta?

Sadarlah, perbuatan siapa itu?
Diri kita ini bukan hasil kelakuan ibu-bapak. Tidak ada yang bisa mengelak dari fakta ini. Tetap kembalinya pada Tuhan. Perbuatan Tuhan. Di sinilah kelemahan manusia: lupa bahwa semuanya itu dari Tuhan.

Orang tauhid–dalam segala apa pun–tetap tidak meninggalkan minallahi: tetap Diri Tuhan dulu yang diperhatikannya. Kalau rasa dari Tuhan ini sudah ada pada diri kita, apalagi yang akan ditakuti? Karena segala-galanya sudah dirasakannya TUHAN SAJA ADA. Tidak ada kekhawatiran sedebu pun yang ditakuti dari makhluk.

Coba perhatikan, Tubuh Maharuang yang meliputi sekalian alam ini dari mana? Bahkan kita ini hidup di dalam-Nya. Bukan hanya hidup, bahkan mencari makan pun di dalam Tubuh-Nya. Coba Tubuh Maharuang ini bergerak sederajat saja: kiamat sudah.


Kaji saja Tubuh Maharuang, tidak akan sesat dan tidak akan tergelincir pada kesesatan maupun pada kezindikan. 


Coba rasa Maharuang ini, ada rasa bersentuh tidak?
Coba cium Maharuang ini, ada baunya tidak?
Coba dengar Maharuang ini, ada suaranya tidak?
Coba lihat Maharuang ini, ada bentuknya tidak?
Coba telaah Maharuang ini, ada kanan-kiri-atas-bawahnya tidak?
Coba pikir Maharuang ini, ada tempatnya tidak?

Tubuh Maharuang ini meliputi sekalian alam. Alam apa saja [Q.S. Fushilat:54].  Mengapa Tubuh yang sudah disediakan sejak 13,75 ± 0.11 miliar tahun lalu itu tidak ada yang mau memakainya?


Al-Halaj mengatakan, "Ana Al-Haq." Lalu dipenggal kepalanya oleh orang-orang bodoh. Berkurun waktu setelah masa hidup Al-Halaj, baru ada orang membenarkannya. Syaik Abdul Qadir al-Jailani mengatakan,"Seandainya al-Halaj hidup sezaman denganku, takkan kubiarkan orang-orang memancungnya."

Mengapa Abdul Qadir Jailani membenarkan Halaj? Karena terbukti orang-orang yang hidup sezaman dengan Halaj tidak memperhatikan kaji Kosong | Maharuang ini.

Bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan Tuhan-hamba: kita tidur-bangun-makan-minum-hidup-mati ini sudah di dalam [Tubuh Kosong Maharuang] kemahaesaan Tuhan tidak? Kalau memahami dan mengenal Kemahasucian-Kemahaesaan Tuhan ini, mahasucilah juga kehambaan kita. Kalau sudah mahasuci, mahaesalah hamba dengan Tuhan. Sudah bermilyar tahun di-ada-kan, sedikit sekali manusia yang mau mengkajinya. Padahal cerita ini ada di Quran.

Ikan tanpa air tidak bisa berenang. Manusia di mana berenangnya? Tentulah di Mahasuci berenangnya. Bermainlah di lautan Mahasuci ini. Banyak perolehan dari Tuhan. Inilah tempat husnul khatimah: tempat yang penuh rahmat.

Apalah susahnya "masuk" di Mahasuci. Bukan pergi dengan pesawat. Tidak perlu mesin jet pula. Cukup dengan kesadaran saja bahwa keberadaan kita ini di Tubuh Mahasuci. Apabila kesadaran ber-ada di Mahasuci ini men-jadi: akan tampak segala-galanya.

Kalau kamu melihat betul-betul kaca [monitor/layar] TV yang kamu tonton, kamu akan tahu bahwa semua cerita yang ada di balik kaca itu. Ini perumpamaan yang nyata untuk dijadikan permisalan mendapatkan kebenaran yang hakiki. Inilah pelajaran kami malam Jumat lalu.



— Syaikh Siradj —


.

13. Fardhu 'Ain dan Jalan Istiqamah dalam Pengetahuan Hakiki


Fardhu `Ain: 
Yang Wajib Diketahui oleh Muslim Laki-laki dan Perempuan


ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu & janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yg tak mengetahui.[Q.S. Al- Jaatsiyah:18]


Peraturan yang ada di dalam agama itu ada masalah keislaman [rukun Islam], ada masalah keimanan [rukun iman], dan masalah keihsanan. Inilah fondasi agama.


Keislaman. Sempuranakan keislaman itu dengan pengetahuan fiqih [hukum syara`].
Keimanan. Sempurnakan keimanan itu dengan menggunakan pengetahuan tauhid; menggunakan hukum aqli.
Keihsanan. Sempurnakan keihsanan itu dengan hakikat dan makrifat yang ada dalam tasawwuf.


Mengapa orang tasawwuf kebanyakan membenci orang tauhid? Padahal orang tauhid selalu mendukung selama tasawwufnya benar: selama prinsip hakikat dan makrifat yang dipegangnya sesuai dengan fondasi prinsip-prinsip tauhid yang hakiki. Tasawwuf harus hati-hati. Jangan salah memegang hakikat-makrifat. Kalau salah, bisa-bisa jatuhnya zindik.

Jadi, di dalam agama ada rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Yang dikatakan rukun di dalam agama ini sifatnya wajib. Shalat saja salah rukunnya, batal: tidak diterima. Rukun berlaku sewaktu kita sedang mengerjakan ibadah. Sebelum mengerjakan ibadah, berlakulah syarat. Maka dalam ibadah perlu kita ketahui syarat, rukun, dan pembatalnya. Inilah ilmu fardhu `ain yang wajib diketahui oleh setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. Mau tidak mau, siapa belum mengetahui ilmu fardhu `ain, musti balik lagi ke pelajaran SD dulu mengenai paham dan amal dalam beragama.

Masalah pondasi dalam agama ini jangan disepelekan. Api besar itu asalnya dari api kecil. Ingat ada riwayat ketika Nabi Muhammad Rasulullah Saw. beserta sebagaian sahabat terhenti langkah di depan sebuah makam orang Islam. Ketika ditanya, rupanya sang ahli kubur sedang disiksa hanya karena selama hidup dia tidak ber-istibra setiap sehabis buang air kecil!

Kita saja merasa diri ini dijadikan oleh ibu-bapak kita [alih-alih merasa dijadikan oleh Allah], batal shalat kita, batal pula syahadat kita. Beginilah caranya orang tauhid mengingatkan jalan syariat. Kita sesama muslim ini perlu saling mengingatkan karena manusia itu tidak luput dari lalai dan lupa.

Bagaimana nur cahaya ilmu akan terpancar pada wajah kita kalau kebersihan lahiriah ini disepelekan. Kalau zaman dahulu, kelihatan orang ahli ibadah itu cerah dirinya, seperti bercahaya-cahaya. Sampai wafat pun kelihatan terpancar cahaya itu pada jasadnya. Mudah-mudahan pada era sekarang ini cahaya-cahaya ibadah itu juga mulai terpancar lagi pada setiap umat Islam. Aamiin.

Ini semua karena setiap pekerjaan syariat itu ada hikmahnya. Seperti kita melihat garam. Syariatnya kita melihat segandu garam. hakikatnya air lautlah itu.
 

Demikian juga kita melaksanakan perintah dan larangan dalam syariat, seremeh apa pun, itu sama kita dengan mengerjakan "segandu garam" dengan hikmah "seluas samudera".


Itulah betapa dalam bersyariat, ada hikmah besar. Apalah artinya bersyariat kalau kita tidak paham soal hakikat dan hikmah. Contoh: membasuh muka selepas bangun tidur, pasti berbeda hikmahnya dengan membasuh wajah pada saat kita berwudhu. Demikian seterusnya dengan anggota zahir ini, berbeda nilai pekerjaan kita yang di luar syariat dengan yang di dalam syariat.

Dari sini tampaklah sudah, betapa pekerjaan syariat itu banyak hikmahnya. Sampai-sampai Imam Ghazali mengajarkan wirid-wirid ketika kita membasuh setiap anggota zahir dalam aktivitas berwudhu. Tentulah wirid-wirid ini mengandung hikmahnya tersendiri. Juga jangan dilupakan pengetahuan tentang  tentang najis lahiriah [semua orang tahu] dan najis batiniah [ujub, riya, sum'ah takabur, dll].
 

Kita harus tahu, bahwa yang disukai Allah itu orang yang shalatnya tepat waktu, bukan masalah diterima atau tidaknya shalat itu. Yang tepat waktu ini yang disukai Allah.


Mengapa saya bawa Anda ke bawah dalam persoalan ini? Karena kebanyakan manusia, kalau sudah duduk di tempat tinggi, lupa dengan tempat yang di bawah. Contoh: dahulu kuliah di jurusan hukum, begitu menjadi pejabat yang diberi kepercayaan menegakkan hukum, malah jadi makelar hukum. Memanipulasi hukum, lupa dengan idealisme ketika masa sekolah dulu. Bukankah hukum itu untuk menegakkan keadilan?

Di dunia saja sudah kelihatan yang bersalah itu kena hukum. Apa di alam barzakh dan alam akhirat tidak berlaku hukum?
 

Senang di dunia ini masih ada campur susahnya, Susah di dunia ini masih ada campur senangnya. Tapi kalau di alam barzakh dan alam akhirat, kalau senang, senang selamanya; kalau susah, susah selamanya.


Orang-orang yang dalam maqam sirr-nya, matanya selalu dibasahi air mata melihat keadaan yang berlaku di dunia ini. Karena orang yang sudah didudukkan Allah di maqam sirr, banyak melihat manusia sudah tertipu dengan kehidupan dunia. Janganlah kehidupan dunia ini memperdaya kita.

Kenanglah bagaimana Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq, mendengar lantunan ayat-ayat Kalam Allah dalam Quran saja, menangis sampai air mata beliau membasahi tempat sujudnya. Ini baru hal keadaan beliau mendengar lantunan Qurani saja.


Jalan Istiqamah dalam Pengetahuan Hakiki

Tetapkan pandangan hati kita kepada Zahiru Rabbi sampai hati kita esa dengan Zahiru Rabbi. Hati yang mengenal Allah itu adalah hati yang menyatakan Adanya Allah itulah sebab adanya alam. Hati yang tidak mengenal, akan mengatakan dari adanya alamlah kita mengetahui Adanya Allah. Sebenarnya Adanya Allah-lah yang menetapkan adanya alam. Letakkanlah Allah pada kedudukan yang layak bagi-Nya.


Sabda Nabi Muhammad Saw.
"Qalbun mu`min baitullah."


Dahulukanlah Pencipta itu yang ADA. Tanpa Pencipta, tentulah tidak ada alam. Jangan alam-alam ciptaan-Nya itu yang ditempatkan di hati. Tetapkanlah segala sesuatu dalam hati kita itu dari asal-mulanya. Asal-mulanya ini yang kita yakini. Siapa asal-mulanya? Tentulah Allah. Jadi dalam segala sesuatu itu, tauhidkan dulu.

Contoh:
Asal-mulanya kita memandang ini dari mana? Dari Allah.
Segala yang kita pandang ini dari mana? Juga dari Allah.
Inilah yang dinamakan
al `abiduuna ma buduuna wahidun. Yang memandang dan yang dipandang: satu. Yang mengenal dan yang dikenal: satu. Yang menyembah dan yang disembah: satu. Kalau sudah satu: esalah itu. Maka dalam segala-galanya, dahulukanlah tauhid. Maksudnya, dahulukan Pencipta.

Allah itu Maha Melihat. Dalam kita melihat apa saja, tetap kita berkeyakinan Allah Maha Melihat. Jadi siapa yang melihat itu? Yang dilihatkankah atau Yang Maha Melihat yang melihat? Kalau dikembalikan ke tauhid, ya Allah-lah yang Maha Melihat itu yang melihat, bukan kita.

Allah itu bukan gaib, Allah itu Raib. Tidak memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Bukan adanya alam ini yang dipakai seorang hamba untuk sampai kepada Diri-Nya, melainkan karunia Allah jugalah yang dapat menyampaikan seorang hamba kepada Diri-Nya. Jadi, yang namanya karunia Allah itu tidak bergantung pada banyak-sedikitnya amal dan tidak bergantung pada berkilo-kilometer washilah. Sebab karunia Allah itu tersembunyi. Meskipun tersembunyi, karunia Allah ini dapat dirasakan oleh anggota zahir.

Rahasia-Nya yang ada pada anggota zahir ini yang dapat merasakan. Pandang Zahiru Rabbi itu, dapat dirasakan keadaan-Nya diam. Kalau sudah dapat keadaan-Nya dirasakan diam, samakanlah diam Zahiru Rabbi itu dengan diam Ruhul Quddus yang ada di sama-tengah hatimu [pusat;puser;udel]. Jadi yang sebenar-benarnya, bukan kita mendiamkan, melainkan menyamakan diamnya Zahiru Rabbi dengan Ruhul Quddus. 

Zahiru Rabbi
 inilah kemahaesaan Tuhan. Inilah Rahasia Kemahaesaan Tuhan. Rahasia Kehamaesaan Tuhan itu, pada diri kita, ada di sama-tengah hati, yaitu Ruhul Quddus yang memiliki sifat keagungan dan kemuliaan. Inilah jasadnya Rasulullah.


Coba samakan diamnya Zahiru Rabbi dengan Ruhul Quddus, kalau saat itu kamu dikaruniai Allah, siapa bilang tidak bisa melihat Rasulullah Saw. selagi hidup? 


Kita ini dikaruniakan Allah agar dapat mendengan dia [Ruhul Quddus] bicara. Ketika itu kita merasakan nikmatnya. Apalagi kalau dikaruniakan melihat diri yang selama ini kita rindukan. Mungkin Anda tidak akan berhenti menangis karenanya.


Di luar segala sesuatu, Tuhan yang Ada. Kedua, ditajallikan-Nya Cahaya Diri-Nya. Inilah yang dikatakan sebagai Sifat Jalal [Kebesaran]. Tuhan mentajallikan Cahaya Diri-Nya, tentulah Tuhan itu "terlindung" oleh Cahaya-Nya. [Sekadar untuk mendekatkan paham: kawat bola lampu yang menyala terlindung oleh pijarnya sehingga tidak tampak di mata kita] Walaupun "terlindung", tidak kelihatan, tetapi Zat-Nya, Sifat-Nya, Asma-Nya, Af`al-nya dizahirkan-Nya menjadi sekalian alam. Itulah maka dikatakan Tuhan itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, dan tidak ber-Af`al.


"Jangan kausembah Zat-Ku, Sifat-Ku, Asma-Ku, Af'al-Ku. Sembahlah AKU." [Hadis Qudsy]


Zahiru Rabbi [Zat, Sifat, Asma, Af'al] ini Af'al Allah. Artinya Tubuh Allah Ta`ala. Kenallah Allah itu. Bagaimana Allah itu? Jauh tiada kesudahan, dekat tidak ada antara atau tidak bersentuh. Kalau sudah paham mengenai ini, maka yang dimaksud dengan  DIAM-TAFAKUR itu bukan mendiamkan jasad, melainkan menyamakan diamnya Ruhul Quddus di dalam pusat dengan diamnya Zahiru Rabbi. Kalau sudah sama, tentulah satu. Yang dinamakan satu itu, diam yang "di dalam" pusat dengan diam yang "di luar" sama. Itulah esa.

Masalah ini tidak bisa didapat hanya dengan paham, 70% didapat dengan jalan praktik. Praktik itulah pengalaman. Ingat pepatah: "Pengalaman itu guru yang terbaik." Praktikkan saja dulu, tahan dulu niat Anda berbantah-bantah mengenai ini. Praktikkan saja dulu jika mau.

Zahiru Rabbi ini Tubuh ["Wadah"] alam. Tubuh alam ini Meliputi sekalian alam. Tubuh alam ini Tubuh Allah Ta`ala.


أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu. [Q.S. Fushilat: 54]


Pertama Tuhan.
Kemudian Cahaya Diri Tuhan [Nur Ilahi].
Ketiga, Nur Muhammad.
Kemudian isi-isi alam (langit, bumi, manusia, dan lain-lain).
Inilah skema pengenalan untuk jalan kita menuju Tuhan.

Jadi, Tubuh Allah ini tubuh siapa? Tubuh Rasulullah Saw.
Kenal Rasulullah, kenallah Allah.
Bertemu Rasulullah, Bertemullah dengan Allah.
Begitulah jalan cerita hakikinya.


Peringatan keras:
Kaji di atas jangan dipandang sebagai prinsip emanasi yang dipegang orang di luar Islam tentang ketuhanan ya.
  • Emanasi = Tuhan memecah Diri-Nya jadi makhluk2. <== ini penyebab munculnya pemikiran hulul dan ittihad itu. 
  • Hulul dan ittihad = penyatuan, atau peleburan Tuhan dan manusia. Hulul dan ittihad <== haram dan syirik

Yang diajarkan Rasulullah Saw. itu: Allah, Cahaya Diri-Nya, Nur Muhammad, sekalian alam itu ESA bukan bersatu, bukan menyatu, bukan melebur, bukan memecah, melainkan esa.

Air asin dan air tawar di muara sungai bercampur tapi tidak satu; satu tapi tidak bercampur. Begitulah Nur Ilahi dengan Nur Muhammad. Asal kita sudah tahu pahaman ini, cukuplah. Tidak bingung lagi soal kedudukan Nur Ilahi dengan Nur Muhammad Kenal ini, sudah selamat. InyaAllah.

Boleh diperhatikan, kalau ada satu wilayah tidak ada satu pun yang mengenal Tubuh Zahiru Rabbi, lihatlah kehidupan wilayah itu akan papa: susah penghidupan dan banyak bencana.


Sebenarnya ini ialah kerahasiaan Allah yang sebenar-benarnya. Karena saya sudah merasakan kita ini sudah satu jemaah, maka tidak ada salahnya kita saling menunjukkan. Karena sesama Islam ini "innamal mu'minuuna ikhwatun"; saling bersaudara. Ayolah, pandai-pandailah kita menyimpan rahasia. Jangan sampai kita ada durhaka kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw.

- Syaikh Siradj -



.